Jumat, 08 Mei 2015

003. KEKUATAN SEMANGAT (AZAM, CITA-CITA, IKHTIAR) TIDAK BERUPAYA MEMECAHKAN BENTENG TAKDIR.



KEKUATAN SEMANGAT (AZAM, CITA-CITA, IKHTIAR) TIDAK BERUPAYA MEMECAHKAN BENTENG TAKDIR.




Kalam Hikmat yang pertama menyentuh tentang hakikat amal yang membawa kepada pengertian tentang amal lahir dan amal batin. Ia mengajak kita memperhatikan amal batin (suasana hati) sehubungan dengan amal lahir yang kita lakukan. Sebagai manusia biasa hati kita cenderung untuk menaruh harapan dan menempatkan ketergantungan kepada efektivitas amal lahir. Hikmat kedua memperjelas tentang dengan membuka pandangan kita ke suasana asbab dan Tajrid. Bersandar kepada amal terjadi karena seseorang itu melihat kepada efektivitas sebab dalam melahirkan akibat. Setelah terlepas dari waham sebab musabab barulah seseorang itu masuk ke suasana Tajrid.

  Dua Hikmat yang lalu telah memberikan pendidikan yang halus kepada jiwa. Seseorang itu mendapat pemahaman bahwa bersandar kepada amal bukanlah jalannya. Pengertian yang demikian melahirkan kecenderungan untuk menyerah bulat-bulat kepada Allah swt Sikap menyerah tanpa persiapan spiritual dapat menggoncangkan iman. Agar orang yang sedang meninggi semangatnya tidak bingung memilih jalan, dia diberi pengertian tentang posisi asbab dan Tajrid. Pemahaman tentang makam asbab dan Tajrid membuat seseorang mendidik jiwanya agar menyerah kepada Allah dengan cara yang tepat dan aman bukan menyerah dengan cara yang sembrono.

Hikmat ke tiga ini pula mengajak kita merenung kepada kekuatan benteng takdir yang memagar segala sesuatu. Ketika membahas tentang anggota Tajrid, kita temukan anggota Tajrid melihat kepada kekuasaan Tuhan yang menempatkan efektivitas kepada sesuatu sebab dan menetapkannya dalam melahirkan akibat Ini berarti semua kejadian dan segala hukum tentang sesuatu hal berada di dalam pemerintahan Allah swt Dia yang menguasai, mengatur dan mengurus setiap makhluk-Nya. Urusan ketuhanan yang menguasai, mengatur dan mengurus atau suasana pemerintahan Allah itu dinamakan takdir. Tidak ada sesuatu yang tidak dikuasai, diatur dan diurus oleh Allah swt Jadi tidak ada sesuatu yang tidak termasuk di dalam takdir.

Manusia terhijab dari memandang kepada takdir karena waham sebab musabab. Kedirian seseorang menjadi alat sebab musabab yang paling efektif menghijab pandangan hati dari melihat kepada takdir. Keinginan, cita-cita, angan-angan, semangat, akal pikiran dan upaya menutupi hati dari melihat ke kekuasaan, aturan dan urusan Tuhan. Hijab kedirian itu jika disimpulkan itu dapat dilihat sebagai hijab nafsu dan hijab akal. Nafsu yang melahirkan keinginan, cita-cita, angan-angan dan semangat. Akal menjadi tentara nafsu, menimbang, merencanakan dan mengadakan upaya dalam menyukseskan apa yang dipicu oleh nafsu. Jika nafsu inginkan sesuatu yang baik, akal bergerak kepada kebaikan itu. Jika nafsu inginkan sesuatu yang buruk, akal itu juga yang bergerak kepada keburukan. Dalam banyak hal akal tunduk kepada perintah nafsu, bukan menjadi penasihat nafsu. Oleh sebab itulah di dalam menundukkan nafsu tidak bisa meminta pertolongan akal.

Dalam proses memperoleh penyerahan secara total kepada Allah terlebih dahulu akal dan nafsu harus ditundukkan kepada kekuatan takdir. Akal harus mengakui kelemahannya di dalam membuka simpul takdir. Nafsu harus menerima kenyataan kelemahan akal dalam hal tersebut dan ikut tunduk bersamanya. Bila nafsu dan akal sudah tunduk barulah hati bisa beriman dengan sebenarnya kepada takdir.

 Beriman kepada takdir seharusnya melahirkan penyerahan secara luas bukan menyerah kepada kebodohan. Orang yang jahil tentang hukum dan perjalanan takdir tidak bisa berserah diri dengan sebenarnya kepada Allah swt karena disebalik kejahilannya itulah nafsu akan menggunakan akal untuk menimbulkan keraguan terhadap Allah swt Rohani orang yang jahil dengan kenyataan takdir itu masih terikat dengan sifat-sifat kemanusiaan biasa. Dia masih melihat bahwa makhluk bisa mendatangkan efek kepada kehidupannya. Tindakan orang lain dan kejadian-kejadian sering mengacau jiwanya. Kondisi yang demikian menyebabkan dia tidak dapat bertahan untuk terus berserah diri kepada Tuhan. Jika dia memahami tentang hukum dan peraturan Tuhan dalam hal takdir tentu dia dapat bertahan dengan iman. Hadis menceritakan tentang takdir:



Seorang pria bertanya kepada Rasulullah saw, "Wahai Rasulullah, apakah iman?" Jawab Rasulullah saw, "Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan Hari Kemudian. Juga engkau beriman dengan Qadar baiknya, buruknya, manisnya dan pahitnya adalah dari Allah ". {Maksud Hadis}

Pandangan kita sering keliru dalam memandang kepada takdir yang terjadi. Kita bingung oleh istilah-istilah yang biasa kita dengar Kita cenderung untuk merasakan seolah-olah Allah hanya menentukan yang dasar saja sementara yang halus-halus ditentukan-Nya kemudian yaitu seolah-olah Dia Melihat dan Meninjau hal yang timbul barulah Dia membuat keputusan. Kita merasakan ketika kita berjuang dengan semangat yang gigih untuk mengubah hal dasar yang telah Allah tetapkan dan Dia Melihat kegigihan kita itu dan bersimpati dengan kita lalu Dia pun membuat ketentuan baru supaya terlaksana takdir baru yang sesuai dengan perjuangan kita. Kita merasakan keinginan dan pemerintahan kita berada di depan sementara Kehendak dan Pemerintahan Allah di belakang. Anggapan dan perasaan yang demikian dapat menyebabkan kesesatan dan kedurhakaan yang besar karena kita menempatkan diri kita pada taraf Tuhan dan Tuhan pula kita letakkan pada taraf hamba yang menurut telunjuk kita. Untuk menjauhkan diri dari kesesatan dan kedurhakaan yang besar itu kita harus sangat memahami soal sunnatullah atau ketentuan Allah swt Segala kejadian terjadi menurut ketentuan dan administrasi Allah swt Tidak ada yang terjadi secara kebetulan. Ilmu Allah meliputi yang awal dan yang akhir, yang azali dan yang abadi. Apa yang diungkapkan dan apa yang terjadi telah ada pada Ilmu-Nya.


Tidak ada sesuatu kesusahan (atau bala bencana) yang ditimpakan di bumi, dan tidak juga yang menimpa diri kamu, melainkan telah tertulis di dalam Kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya; sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Ayat 22: Surah al-Hadiid)



Maha Suci (serta Maha Tinggi kelebihan) Tuhan yang menguasai pemerintahan (dunia dan akhirat); dan memanglah Ia Maha Kuasa atas segala sesuatu; - (Ayat 1: Surah al-Mulk)

Dan yang telah mengatur (kondisi makhluk-makhluk-Nya) serta memberikan hidayah petunjuk (ke jalan keselamatannya dan kesempurnaannya); (Ayat 3: Surah al-A'laa)


Dan Kami jadikan bumi memancarkan mataair-mataair (di sana sini), lalu bertemulah air (langit dan bumi) itu untuk (melakukan) satu hal yang telah ditetapkan. (Ayat 12: Surah al-Qamar)

Segala hal, tidak peduli apa istilah yang digunakan, adalah termasuk dalam ketentuan Allah swt Apa yang kita istilahkan sebagai perjuangan, ikhtiar, doa, kekeramatan, mukjizat dan lain-lain semuanya adalah ketentuan Allah swt Pagar takdir mengelilingi segala-galanya dan tidak ada sebesar zarah pun yang mampu menembus benteng takdir yang maha teguh. Tidak terjadi perjuangan dan ikhtiar melainkan perjuangan dan ikhtiar tersebut telah ada dalam pagar takdir. Tidak berdoa orang yang berdoa melainkan halnya berdoa itu adalah takdir untuknya yang sesuai dengan ketentuan Allah swt untuknya. Hal yang didoakan juga tidak lari dari perbatasan ketentuan Allah swt Tidak terjadi kekeramatan dan mukjizat melainkan kekeramatan dan mukjizat itu adalah takdir yang tidak menyimpang dari pemerintahan Allah swt Tidak menghirup satu nafas atau berdenyut satu nadi melainkan itu adalah takdir yang mengungkapkan urusan Allah swt pada azali.


Kami datang dari Allah dan kepada Allah kami kembali.

Segala hal datangnya dari Allah atau Dia yang mengadakan ketentuan tanpa intervensi siapa pun. Segala hal kembali kepada-Nya karena Dialah yang mempastikan hukum ketentuan-Nya terlaksana tanpa siapa pun mampu membatasi urusan-Nya.

 Bila sudah dipahami bahwa usaha, ikhtiar, menyerah diri dan segala-galanya adalah takdir yang menurut ketentuan Allah swt, maka seseorang itu tidak lagi merasa bingung apakah mau berikhtiar atau menyerah diri. Ikhtiar dan berserah diri sama-sama berada di dalam pagar takdir. Jika seseorang menyadari makamnya apakah asbab atau Tajrid maka dia hanya perlu bertindak sesuai dengan makamnya. Anggota asbab harus berusaha dengan gigih menurut kondisi hukum sebab-akibat. Apapun hasil yang muncul dari usahanya diterimanya dengan senang hati karena dia tahu hasil itu juga adalah takdir yang diberikan oleh Allah swt Jika hasilnya baik dia akan bersyukur karena dia tahu bahwa kebaikan itu datangnya dari Allah swt Jika tidak ada ketentuan baik untuknya niscaya tidak mungkin dia mendapat kebaikan. Jika hasil yang buruk pula sampai kepadanya dia akan bersabar karena dia tahu apa yang datang kepadanya itu adalah menurut ketentuan Allah tidak tunduk kepada usaha dan ikhtiarnya. Meskipun hasil yang tidak sesuai dengan seleranya datang kepadanya tetapi usaha baik yang dilakukannya tetap diberi pahala dan keberkahan oleh Allah jika dia bersabar dan rela dengan apa juga takdir yang sampai kepadanya itu.

 Anggota Tajrid pula akan reda dengan suasana kehidupannya dan tetap yakin dengan jaminan Allah swt Dia tidak harus mengeluh jika terjadi kekurangan pada rezekinya atau kesusahan menimpanya. Suasana kehidupannya adalah takdir yang sesuai dengan apa yang Allah tentukan. Rezeki yang sampai kepadanya adalah juga ketentuan Allah swt Jika terjadi kekurangan atau kesusahan maka ia juga masih di dalam pagar takdir yang ditentukan oleh Allah swt Begitu juga jika terjadi keberkahan dan kekeramatan pada dirinya dia harus melihat itu sebagai takdir yang menjadi bagiannya.

 Persoalan takdir berkaitan erat dengan persoalan fakta. Fakta membawa pandangan dari yang banyak kepada yang satu. Perhatikan ke sebiji benih kacang. Setelah ditanam benih yang kecil itu akan tumbuh dengan sempurna, mengeluarkan beberapa banyak buah kacang. Buah kacang tersebut dijadikan pula benih untuk menumbuhkan pohon kacang yang lain. Begitulah seterusnya sampai kacang yang dimulai dari satu biji menjadi jutaan juta kacang. Kacang yang sejuta tidak ada bedanya dengan kacang yang pertama. Benih kacang yang pertama itu tidak hanya berkemampuan untuk menjadi sebatang pohon kacang, bahkan ia mampu mengeluarkan semua generasi kacang sampai hari kiamat. Ia hanya bisa mengeluarkan kacang, tidak benda lain.

 Ulasan akal dapat menyatakan bahwa semua kacang memiliki zat yang sama, yaitu zat kacang. Zat kacang pada benih pertama mirip dengan zat kacang pada yang ke satu juta bahkan ia adalah zat yang sama atau yang satu. Zat kacang yang satu itulah 'bergerak' pada semua kacang, mempastikan yang kacang akan menjadi kacang, tidak menjadi benda lain. Meskipun diakui keberadaan zat kacang yang mengontrol pertumbuhan kacang namun, zat kacang itu tidak mungkin ditemukan di mana-mana kacang. Ia tidak berupa dan tidak mendiami setiap kacang, tetapi ia tidak berpisah dengan setiap kacang. Tanpanya tidak mungkin ada eksistensi kacang. Zat kacang ini dinamakan "Hakikat Kacang". Ini adalah suasana ketuhanan yang mengatur dan mengontrol seluruh pertumbuhan kacang dari awal sampai kesudahan, sampai ke hari kiamat. Hakikat Kacang inilah suasana pemerintahan Allah yang Dia telah tentukan untuk semua kejadian kacang. Apa saja yang dikuasai oleh Hakikat Kacang tidak ada pilihan kecuali menjadi kacang.

 Suasana pemerintahan Allah yang mengatur dan mengontrol keberadaan keturunan manusia pula dinamakan "Hakikat Manusia" atau "Hakikat Insan". Allah swt telah menciptakan manusia yang pertama, yaitu Adam as menurut Hakikat Insan yang ada pada sisi-Nya. Pada kejadian Adam as itu telah disimpan bakat dan kemampuan untuk melahirkan semua keturunan manusia sampai hari kiamat. Manusia akan tetap melahirkan manusia karena fakta yang menguasainya adalah Hakikat Manusia.

 Pada Hakikat Manusia itu ada fakta yang menguasai satu individu manusia dan keterkaitan segala kejadian alam yang lain. Seorang manusia yang berhakikatkan "Hakikat Nabi" pasti menjadi nabi. Seorang manusia yang berhakikatkan "Hakikat Wali" pasti akan menjadi wali. Suasana administrasi Allah swt atau fakta itu menguasai roh yang terkait dengannya. Roh bekerja memamerkan segala informasi yang ada dengan kenyataan yang menguasainya. Kerja roh adalah menjalankan urusan Allah swt yaitu menyatakan fakta yang ada pada sisi Allah swt


Dan katakan: "Roh itu termasuk urusan Tuhanku". (Ayat 85: Surah Al-Isra ')

Administrasi Allah menguasai roh dan menyeret roh kepada memamerkan ketentuan-Nya yang berada di azali. Allah telah menentukan hakikat sesuatu sejak azali lagi. Tidak ada perubahan pada ketentuan Allah s.w.t. Segala sesuatu diatur oleh fakta yang pada sisi Allah swt Unta tidak bisa meminta menjadi kambing. Kera tidak bisa meminta menjadi manusia. Manusia tidak bisa meminta menjadi malaikat. Segala ketentuan telah diputuskan oleh Allah swt

Rabu, 12 Januari 2011

002. Ahli Asbab dan Ahli Tajrid

KEINGINAN KAMU UNTUK BERTAJRID PADAHAL ALLAH MASIH MELETAKKAN KAMU DALAM SUASANA ASBAB ADALAH SYAHWAT YANG SAMAR, SEBALIKNYA KEINGINAN KAMU UNTUK BERASBAB PADAHAL ALLAH TELAH MELETAKKAN KAMU DALAM SUASANA TAJRID BERARTI TURUN DARI SEMANGAT DAN TINGKAT YANG TINGGI.


Hikmat 1 menjelaskan tanda orang yang bersandar kepada amal. Tergantung pada amal adalah sifat manusia biasa yang hidup dalam dunia ini. Dunia ini dinamakan alam asbab. Ketika perjalanan hidup keduniaan dipandang melalui mata ilmu atau mata akal akan dapat disaksikan kerapian susunan sistem sebab musabab yang mempengaruhi segala kejadian.

Tiap sesuatu terjadi menurut sebab yang menyebabkan itu terjadi. Hubungan sebab dengan akibat sangat erat. Mata akal melihat dengan jelas efektivitas sebab dalam menentukan akibat. Kerapian sistem sebab musabab ini memungkinkan manusia mengambil manfaat dari anasir dan kejadian alam. Manusia dapat menentukan anasir yang dapat membahayakan kesehatan lalu menjauhkannya dan manusia juga dapat menentukan anasir yang dapat menjadi obat lalu menggunakannya. Manusia dapat membuat ramalan cuaca, pasang surut air laut, angin, ombak, ledakan gunung berapi dan lain-lain karena sistem yang mengontrol perjalanan anasir alam berada dalam suasana yang sangat rapi dan sempurna, membentuk hubungan sebab dan akibat yang padu.

Allah swt mengadakan sistem sebab musabab yang rapi adalah untuk kenyamanan manusia mengatur kehidupan mereka di dunia ini. Kekuatan akal dan indera manusia mampu mengatur kehidupan yang dikaitkan dengan perjalanan sebab musabab. Hasil dari pengamatan dan penelitian akal itulah lahir berbagai jenis ilmu tentang alam dan kehidupan, seperti ilmu sains, astronomi, kedokteran, teknologi informasi dan sebagainya. Semua jenis ilmu itu dibentuk berdasarkan perjalanan hukum sebab-akibat.
 Kerapian sistem sebab musabab menyebabkan manusia terikat kuat dengan hukum sebab-akibat. Manusia tergantung pada amal (sebab) dalam mendapatkan hasil (akibat). Manusia yang melihat kepada efektivitas sebab dalam menentukan akibat serta bersandar dengannya dinamakan anggota asbab.

Sistem sebab musabab atau perjalanan hukum sebab-akibat sering membuat manusia lupa kepada kekuasaan Allah swt Mereka melakukan sesuatu dengan penuh keyakinan bahwa akibat akan lahir dari sebab, seolah-olah Allah tidak ikut campur dalam urusan mereka. Allah tidak suka hamba-Nya 'mempertuhankan' sesuatu kekuatan sehingga mereka lupa kepada kekuasaan-Nya. Allah tidak suka jika hamba-Nya sampai ke tingkat mempersekutukan diri-Nya dan kekuasaan-Nya dengan anasir alam dan hukum sebab-akibat ciptaan-Nya. Dia yang menempatkan efektivitas kepada anasir alam berkuasa membuat anasir alam itu lemah kembali. Dia yang menempatkan kerapian pada hukum sebab-akibat berkuasa merombak hukum tersebut. Dia mengutus rasul-rasul dan nabi-nabi membawa mukjizat yang merombak hukum sebab-akibat untuk mengembalikan pandangan manusia kepada-Nya, agar waham sebab musabab tidak menghijab ketuhanan-Nya. Kelahiran Nabi Isa as, terbelahnya laut dipukul oleh tongkat Nabi Musa as, kehilangan daya membakar yang ada pada api tatkala Nabi Ibrahim as masuk ke dalamnya, keluarnya air yang jernih dari jari-jari Nabi Muhammad saw dan banyak lagi yang didatangkan oleh Allah swt, merombak efektivitas hukum sebab-akibat untuk menyadarkan manusia tentang kenyataan bahwa kekuasaan Allah swt yang memimpin perjalanan alam maya dan hukum sebab-akibat. Alam dan hukum yang ada padanya seharusnya membuat manusia mengenal Tuhan, bukan menutup pandangan kepada Tuhan. Sebagian dari manusia diselamatkan Allah SWT dari waham sebab musabab.

Sebagai manusia yang hidup dalam dunia mereka masih bergerak dalam arus sebab musabab tetapi mereka tidak menempatkan efektivitas hukum kepada sebab. Mereka selalu melihat kekuasaan Allah yang mengatur atau mencabut efektivitas pada sesuatu hukum sebab-akibat. Jika sesuatu sebab berhasil mengeluarkan akibat menurut yang biasa terjadi, mereka melihatnya sebagai kekuasaan Allah yang mengatur kekuatan untuk alasan tersebut dan Allah juga yang mengeluarkan akibatnya. Allah s.w.t berfirman:
Segala yang ada di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah; dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Dialah yang menguasai dan memiliki langit dan bumi; Ia menghidupkan dan mematikan; dan Ia Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Ayat 1 & 2: Surah al-Hadiid)
Maka Kami (Allah) berfirman: "Pukullah si mati dengan sebagian anggota sapi yang kamu sembelih itu". (Mereka pun memukulnya dan ia kembali hidup). Demikianlah Allah menghidupkan orang-orang yang telah mati, dan memperlihatkan kepada kamu tanda-tanda kekuasaan-Nya, supaya kamu memahaminya. (Ayat 73: Surah al-Baqarah)

Orang yang melihat kepada kekuasaan Allah memimpin hukum sebab-akibat tidak menempatkan efektivitas kepada hukum tersebut. Cadangan devisanya kepada Allah, tidak untuk amal yang menjadi sebab. Orang yang seperti ini disebut anggota Tajrid.

Anggota Tajrid, seperti juga anggota asbab, melakukan sesuatu menurut aturan sebab-akibat. Anggota Tajrid juga makan dan minum Anggota Tajrid pemanasan dan memasak dengan menggunakan api juga. Anggota Tajrid juga melakukan sesuatu pekerjaan yang berhubungan dengan rezekinya. Tidak ada perbedaan di antara amal anggota Tajrid dengan amal anggota asbab. Perbedaannya terletak di dalam diri yaitu hati. Anggota asbab melihat kepada kekuatan hukum alam. Anggota Tajrid melihat kepada kekuasaan Allah pada hukum alam itu. Meskipun anggota asbab mengakui kekuasaan Allah SWT tetapi penghayatan dan kekuatannya pada hati tidak sekuat anggota Tajrid.

Dalam melakukan kebaikan anggota asbab perlu melakukan mujahadah. Mereka harus memaksa diri mereka berbuat baik dan perlu menjaga kebaikan itu agar tidak menjadi rusak. Anggota asbab perlu memperingatkan dirinya agar berbuat ikhlas dan harus melindungi keikhlasannya agar tidak dirusak oleh riak (berbuat baik untuk diperlihatkan kepada orang lain agar dia dikatakan orang baik), takabur (sombong dan membesar diri, merasa diri sendiri lebih baik, lebih tinggi, lebih kuat dan lebih cerdik dari orang lain) dan sama'ah (membawa perhatian orang lain kepada kebaikan yang telah dibuatnya dengan cara bercerita tentang, agar orang mengakui bahwa dia adalah orang baik). Jadi, anggota asbab perlu memelihara kebaikan sebelum melakukannya dan juga setelah melakukannya. Suasana hati anggota Tajrid berbeda dari apa yang dialami oleh anggota asbab. Jika anggota asbab memperingatkan dirinya agar ikhlas, anggota Tajrid tidak melihat kepada ikhlas karena mereka tidak bersandar kepada amal kebaikan yang mereka lakukan. Apapun kebaikan yang keluar dari mereka diserahkan kepada Allah yang menganugerahkan kebaikan tersebut. Anggota Tajrid tidak perlu menentukan perbuatannya ikhlas atau tidak ikhlas. Melihat keihklasan pada perbuatan sama dengan melihat diri sendiri yang ikhlas. Ketika seseorang merasakan dirinya sudah ikhlas, padanya masih tersembunyi keegoan diri yang menyebabkan riak, ujub (merasa diri sendiri sudah baik) dan sama'ah. Ketika tangan kanan berbuat ikhlas dalam kondisi tangan kiri tidak menyadari perbuatan itu barulah tangan kanan itu benar-benar ikhlas. Orang yang ikhlas berbuat kebaikan dengan melupakan kebaikan itu. Ikhlas sama seperti harta benda. Jika seorang miskin diberi harta oleh jutawan, orang miskin itu malu mendabik dada ke jutawan itu dengan mengatakan yang dia sudah kaya. Orang Tajrid yang diberi ikhlas oleh Allah swt mengembalikan kebaikan mereka kepada Allah swt Jika harta orang miskin itu hak si jutawan tadi, ikhlas orang Tajrid adalah hak Allah swt Jadi, orang asbab bergembira karena melakukan perbuatan dengan ikhlas, orang Tajrid pula melihat Allah yang mengatur sekalian urusan. Anggota asbab dibawa ke syukur, anggota Tajrid berada dalam penyerahan.

Kebaikan yang dilakukan oleh anggota asbab merupakan teguran agar mereka ingat kepada Allah yang memimpin mereka kepada kebaikan. Kebaikan yang dilakukan oleh anggota Tajrid merupakan karunia Allah swt kepada kelompok manusia yang tidak memandang diri mereka dan kepentingannya. Anggota asbab melihat kepada efektivitas hukum sebab-akibat. Anggota Tajrid pula melihat kepada efektivitas kekuasaan dan ketentuan Allah swt Dari kalangan anggota Tajrid, Allah memilih sebagian dan menempatkan kekuatan hukum pada mereka. Kelompok ini bukan sekadar tidak melihat kepada efektivitas hukum sebab-akibat, bahkan mereka berkekuatan menguasai hukum sebab-akibat itu. Mereka adalah nabi-nabi dan wali-wali pilihan. Nabi-nabi diberikan mukjizat dan wali-wali dianugerahi kekeramatan. Mukjizat dan kekeramatan merombak efektivitas hukum sebab-akibat.

Di dalam kelompok wali-wali pilihan yang diberkahi kekuatan mengontrol hukum sebab-akibat itu terdapatlah orang-orang seperti Syeikh Abdul Qadir al-Jailani, Abu Hasan as-Sazili, Rabiatul Adawiah, Ibrahim Adham dan lain-lain. Cerita tentang kekeramatan mereka sering diperdengarkan. Orang yang cenderung kepada tarekat tasawuf gemar membuat kehidupan aulia Allah tersebut sebagai contoh, dan yang mudah memikat perhatian adalah bagian kekeramatan. Kekeramatan biasanya dikaitkan dengan perilaku kehidupan yang zuhud dan bertawakal sepenuhnya kepada Allah swt Timbul anggapan bahwa jika ingin memperoleh kekeramatan seperti mereka harus hidup sebagaimana mereka. Orang yang berada pada tahap awal bertarekat cenderung untuk memilih jalan bertajrid yaitu membuang segala ikhtiar dan bertawakal sepenuhnya kepada Allah swt Sikap melulu bertajrid membuat seseorang meninggalkan pekerjaan, istri, anak-anak, masyarakat dan dunia seluruhnya. Semua harta disedekahkan karena dia melihat Abu Bakar as-Siddik telah melakukannya. Ibrahim bin Adham telah meninggalkan tahta kerajaan, istri, anak, rakyat dan negerinya lalu tinggal di dalam gua. Biasanya orang yang bertindak demikian tidak dapat bertahan lama. Kesudahannya dia mungkin meninggalkan kelompok tarekatnya dan kembali ke kehidupan duniawi. Ada juga yang kembali kepada kehidupan yang lebih buruk dari keadaannya sebelum bertarekat dahulu karena dia ingin menebus kembali apa yang telah ditinggalkannya dahulu untuk bertarekat. Kondisi yang demikian terjadi akibat bertajrid sembarangan. Orang yang baru masuk ke dalam bidang pelatihan spiritual sudah ingin beramal seperti aulia Allah yang sudah puluhan tahun melatihkan diri. Aksi melemparkan semua yang dimilikinya secara tergesa-gesa membuatnya berhadapan dengan tantangan dan dugaan yang bisa menggoncangkan imannya dan mungkin juga membuatnya berputus-asa. Apa yang harus dilakukan bukanlah meniru kehidupan aulia Allah swt yang telah mencapai makam yang tinggi sembarangan. Seseorang haruslah melihat ke dirinya dan mengidentifikasi posisinya, kemampuanya dan daya-tahannya. Ketika masih di dalam makam asbab seseorang haruslah bertindak sesuai dengan hukum sebab-akibat. Dia harus bekerja untuk mendapatkan rezekinya dan harus pula berusaha menjauhkan dirinya dari bahaya atau kerusakan.

Anggota asbab perlu melakukannya karena dia masih terikat dengan sifat-sifat kemanusiaan. Dia masih melihat bahwa tindakan makhluk mempengaruhi dirinya. Oleh yang demikian adalah wajar jika dia mengadakan juga tindakan yang menurut pandangannya akan mendatangkan kesejahteraan bagi dirinya dan orang lain. Tanda Allah menempatkan seseorang pada posisi sebagai anggota asbab adalah ketika urusannya dan tindakannya yang menurut kesesuaian hukum sebab-akibat tidak menyebabkannya mengabaikan kewajiban terhadap tuntutan agama. Dia tetap merasa rengan untuk berbakti kepada Allah swt, tidak gelojoh dengan nikmat duniawi dan tidak merasa iri terhadap orang lain. Ketika anggota asbab berjalan menurut hukum asbab maka jiwanya akan maju dan berkembang dengan baik tanpa mengalami kegoncangan yang besar yang dapat menyebabkan dia berputus asa dari rahmat Allah swt Rohaninya akan menjadi kuat sedikit demi sedikit dan mendorongnya ke dalam makam Tajrid secara aman. Akhirnya dia mampu untuk bertajrid sepenuhnya.

Ada pula orang yang dipaksa oleh takdir sehingga bertajrid. Orang ini awalnya adalah anggota asbab yang berjalan menurut hukum sebab-akibat sebagaimana orang. Kemungkinannya kehidupan seperti itu tidak menambah kematangan rohaninya. Perubahan jalan perlu baginya sehingga dia bisa maju dalam bidang spiritual. Jadi takdir bertindak memaksanya untuk terjun ke dalam lautan Tajrid. Dia akan mengalami kondisi di mana hukum sebab-akibat tidak lagi membantunya untuk menyelesaikan masalahnya. Jika dia seorang raja, takdir mencabut kerajaannya. Jika dia seorang hartawan, takdir menghapus hartanya. Jika dia seorang yang cantik, takdir menghilangkan kecantikannya itu. Takdir memisahkannya dari apa yang dimiliki dan dikasihinya. Pada tahap awal menerima kedatangan takdir yang demikian, sebagai anggota asbab, dia berikhtiar menurut hukum sebab-akibat untuk mempertahankan apa yang dimiliki dan dikasihinya. Jika dia tidak mampu untuk menolong dirinya dia akan meminta pertolongan orang lain. Setelah puas dia berikhtiar termasuk bantuan orang lain namun, tangan takdir tetap juga merombak sistem sebab-akibat yang terjadi pada dirinya. Bila dia sendiri dengan dibantu oleh orang lain tidak mampu mengatasi arus takdir maka dia tidak ada pilihan kecuali berserah kepada takdir. Dalam kondisi begitu dia akan lari kepada Allah dan memohon agar Allah menolongnya. Pada tahap ini seseorang akan kuat beribadah dan berfokus sepenuh hatinya kepada Tuhan. Dia benar-benar berharap Tuhan akan menolongnya mengembalikan apa yang pernah dimilikinya dan dikasihinya. Tapi, pertolongan tidak juga sampai kepadanya sampai dia benar-benar terpisah dari apa yang dimiliki dan dikasihinya itu. Luputlah harapannya untuk mendapatkannya kembali. Redalah dia dengan perpisahan itu. Dia tidak lagi menarik bagi Tuhan sebaliknya dia menyerahkan segala urusannya kepada Tuhan. Dia menyerah bulat-bulat kepada Allah, tidak ada lagi ikhtiar, pilihan dan kehendak diri sendiri. Jadi dia seorang hamba Allah swt yang bertajrid. Bila seseorang hamba benar-benar bertajrid maka Allah swt sendiri akan mengelola kehidupannya. Allah swt menggambarkan suasana Tajrid dengan firman-Nya:
Dan (ingatlah) berapa banyak binatang yang tidak membawa rezekinya bersama, Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepada kamu; dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Ayat 60: Surah al-'Ankabut)

Makhluk Allah seperti burung, ikan, kuman dan sebagainya tidak memiliki tempat penyimpanan makanan. Mereka adalah anggota Tajrid yang dijamin rezeki mereka oleh Allah swt Jaminan Allah itu meliputi juga ras manusia. Tanda Allah menempatkan seseorang hamba-Nya di dalam makam Tajrid adalah Allah memudahkan baginya rezeki yang datang dari arah yang tidak diduganya. Jiwanya tetap tenteram sekalipun terjadi kekurangan pada rezeki atau ketika menerima bala ujian.

Jika anggota Tajrid sengaja memindahkan dirinya ke makam asbab maka ini berarti dia melepaskan jaminan Allah swt lalu bersandar kepada makhluk. Ini menunjukkan akan kejahilannya tentang rahmat dan kekuasaan Allah swt Tindakan yang jahil itu dapat menyebabkan berkurang atau hilang terus keberkahan yang Allah karuniakan kepadanya. Misalnya, seorang anggota Tajrid yang tidak memiliki pekerjaan kecuali membimbing orang ke jalan Allah, meskipun tidak memiliki pekerjaan namun, rezeki datang kepadanya dari berbagai arah dan tidak pernah putus tanpa dia meminta-minta atau mengharap-harap. Pengajaran yang disampaikan kepada murid-muridnya sangat efektif sekali. Keberkatannya sangat signifikan seperti makbul doa dan ucapannya biasanya menjadi kenyataan. Andainya dia meninggalkan suasana bertajrid lalu berasbab karena tidak puas dengan rezeki yang diterimanya maka keberkatannya akan terpengaruh. Pengajarannya, doanya dan ucapannya tidak seberkesan dahulu lagi. Ilham yang datang kepadanya tersendat dan kefasihan lidahnya tidak selancar biasa.

Seseorang hamba haruslah menerima dan reda dengan posisi yang Allah karuniakan kepadanya. Berserahlah kepada Allah swt dengan yakin bahwa Allah Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana. Allah tahu apa yang patut bagi setiap makhluk-Nya. Allah swt sangat bijak mengatur urusan hamba-hamba-Nya.

Keinginan untuk pertukaran makam merupakan tipu daya yang sangat halus. Di dalamnya tersembunyi dorongan nafsu yang sulit disadari. Nafsu di sini mencakup keinginan, cita-cita dan angan-angan. Orang yang baru terbuka pintu hatinya setelah lama hidup di dalam kelalaian, akan mudah tergerak untuk meninggalkan suasana asbab dan masuk ke dalam suasana Tajrid. Orang yang telah lama berada dalam suasana Tajrid, ketika kesadaran dirinya kembali sepenuhnya, ikut kembali kepadanya adalah keinginan, cita-cita dan angan-angan. Nafsu mencoba untuk bangkit kembali menguasai dirinya. Orang asbab perlulah menyadari bahwa keinginannya untuk pindah ke makam Tajrid itu mungkin secara halus digerakkan oleh ego diri yang tertanam jauh dalam jiwanya. Orang Tajrid pula harus sadar keinginannya untuk kembali ke asbab itu mungkin didorong oleh nafsu rendah yang masih belum berpisah dari hatinya. Ulama tasawuf mengatakan seseorang mungkin dapat mencapai semua makam nafsu, tapi nafsu tingkat pertama tidak kunjung padam. Oleh yang demikian perjuangan atau mujahadah mengawasi nafsu selalu berjalan