Jumat, 08 Mei 2015

003. KEKUATAN SEMANGAT (AZAM, CITA-CITA, IKHTIAR) TIDAK BERUPAYA MEMECAHKAN BENTENG TAKDIR.



KEKUATAN SEMANGAT (AZAM, CITA-CITA, IKHTIAR) TIDAK BERUPAYA MEMECAHKAN BENTENG TAKDIR.




Kalam Hikmat yang pertama menyentuh tentang hakikat amal yang membawa kepada pengertian tentang amal lahir dan amal batin. Ia mengajak kita memperhatikan amal batin (suasana hati) sehubungan dengan amal lahir yang kita lakukan. Sebagai manusia biasa hati kita cenderung untuk menaruh harapan dan menempatkan ketergantungan kepada efektivitas amal lahir. Hikmat kedua memperjelas tentang dengan membuka pandangan kita ke suasana asbab dan Tajrid. Bersandar kepada amal terjadi karena seseorang itu melihat kepada efektivitas sebab dalam melahirkan akibat. Setelah terlepas dari waham sebab musabab barulah seseorang itu masuk ke suasana Tajrid.

  Dua Hikmat yang lalu telah memberikan pendidikan yang halus kepada jiwa. Seseorang itu mendapat pemahaman bahwa bersandar kepada amal bukanlah jalannya. Pengertian yang demikian melahirkan kecenderungan untuk menyerah bulat-bulat kepada Allah swt Sikap menyerah tanpa persiapan spiritual dapat menggoncangkan iman. Agar orang yang sedang meninggi semangatnya tidak bingung memilih jalan, dia diberi pengertian tentang posisi asbab dan Tajrid. Pemahaman tentang makam asbab dan Tajrid membuat seseorang mendidik jiwanya agar menyerah kepada Allah dengan cara yang tepat dan aman bukan menyerah dengan cara yang sembrono.

Hikmat ke tiga ini pula mengajak kita merenung kepada kekuatan benteng takdir yang memagar segala sesuatu. Ketika membahas tentang anggota Tajrid, kita temukan anggota Tajrid melihat kepada kekuasaan Tuhan yang menempatkan efektivitas kepada sesuatu sebab dan menetapkannya dalam melahirkan akibat Ini berarti semua kejadian dan segala hukum tentang sesuatu hal berada di dalam pemerintahan Allah swt Dia yang menguasai, mengatur dan mengurus setiap makhluk-Nya. Urusan ketuhanan yang menguasai, mengatur dan mengurus atau suasana pemerintahan Allah itu dinamakan takdir. Tidak ada sesuatu yang tidak dikuasai, diatur dan diurus oleh Allah swt Jadi tidak ada sesuatu yang tidak termasuk di dalam takdir.

Manusia terhijab dari memandang kepada takdir karena waham sebab musabab. Kedirian seseorang menjadi alat sebab musabab yang paling efektif menghijab pandangan hati dari melihat kepada takdir. Keinginan, cita-cita, angan-angan, semangat, akal pikiran dan upaya menutupi hati dari melihat ke kekuasaan, aturan dan urusan Tuhan. Hijab kedirian itu jika disimpulkan itu dapat dilihat sebagai hijab nafsu dan hijab akal. Nafsu yang melahirkan keinginan, cita-cita, angan-angan dan semangat. Akal menjadi tentara nafsu, menimbang, merencanakan dan mengadakan upaya dalam menyukseskan apa yang dipicu oleh nafsu. Jika nafsu inginkan sesuatu yang baik, akal bergerak kepada kebaikan itu. Jika nafsu inginkan sesuatu yang buruk, akal itu juga yang bergerak kepada keburukan. Dalam banyak hal akal tunduk kepada perintah nafsu, bukan menjadi penasihat nafsu. Oleh sebab itulah di dalam menundukkan nafsu tidak bisa meminta pertolongan akal.

Dalam proses memperoleh penyerahan secara total kepada Allah terlebih dahulu akal dan nafsu harus ditundukkan kepada kekuatan takdir. Akal harus mengakui kelemahannya di dalam membuka simpul takdir. Nafsu harus menerima kenyataan kelemahan akal dalam hal tersebut dan ikut tunduk bersamanya. Bila nafsu dan akal sudah tunduk barulah hati bisa beriman dengan sebenarnya kepada takdir.

 Beriman kepada takdir seharusnya melahirkan penyerahan secara luas bukan menyerah kepada kebodohan. Orang yang jahil tentang hukum dan perjalanan takdir tidak bisa berserah diri dengan sebenarnya kepada Allah swt karena disebalik kejahilannya itulah nafsu akan menggunakan akal untuk menimbulkan keraguan terhadap Allah swt Rohani orang yang jahil dengan kenyataan takdir itu masih terikat dengan sifat-sifat kemanusiaan biasa. Dia masih melihat bahwa makhluk bisa mendatangkan efek kepada kehidupannya. Tindakan orang lain dan kejadian-kejadian sering mengacau jiwanya. Kondisi yang demikian menyebabkan dia tidak dapat bertahan untuk terus berserah diri kepada Tuhan. Jika dia memahami tentang hukum dan peraturan Tuhan dalam hal takdir tentu dia dapat bertahan dengan iman. Hadis menceritakan tentang takdir:



Seorang pria bertanya kepada Rasulullah saw, "Wahai Rasulullah, apakah iman?" Jawab Rasulullah saw, "Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan Hari Kemudian. Juga engkau beriman dengan Qadar baiknya, buruknya, manisnya dan pahitnya adalah dari Allah ". {Maksud Hadis}

Pandangan kita sering keliru dalam memandang kepada takdir yang terjadi. Kita bingung oleh istilah-istilah yang biasa kita dengar Kita cenderung untuk merasakan seolah-olah Allah hanya menentukan yang dasar saja sementara yang halus-halus ditentukan-Nya kemudian yaitu seolah-olah Dia Melihat dan Meninjau hal yang timbul barulah Dia membuat keputusan. Kita merasakan ketika kita berjuang dengan semangat yang gigih untuk mengubah hal dasar yang telah Allah tetapkan dan Dia Melihat kegigihan kita itu dan bersimpati dengan kita lalu Dia pun membuat ketentuan baru supaya terlaksana takdir baru yang sesuai dengan perjuangan kita. Kita merasakan keinginan dan pemerintahan kita berada di depan sementara Kehendak dan Pemerintahan Allah di belakang. Anggapan dan perasaan yang demikian dapat menyebabkan kesesatan dan kedurhakaan yang besar karena kita menempatkan diri kita pada taraf Tuhan dan Tuhan pula kita letakkan pada taraf hamba yang menurut telunjuk kita. Untuk menjauhkan diri dari kesesatan dan kedurhakaan yang besar itu kita harus sangat memahami soal sunnatullah atau ketentuan Allah swt Segala kejadian terjadi menurut ketentuan dan administrasi Allah swt Tidak ada yang terjadi secara kebetulan. Ilmu Allah meliputi yang awal dan yang akhir, yang azali dan yang abadi. Apa yang diungkapkan dan apa yang terjadi telah ada pada Ilmu-Nya.


Tidak ada sesuatu kesusahan (atau bala bencana) yang ditimpakan di bumi, dan tidak juga yang menimpa diri kamu, melainkan telah tertulis di dalam Kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya; sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Ayat 22: Surah al-Hadiid)



Maha Suci (serta Maha Tinggi kelebihan) Tuhan yang menguasai pemerintahan (dunia dan akhirat); dan memanglah Ia Maha Kuasa atas segala sesuatu; - (Ayat 1: Surah al-Mulk)

Dan yang telah mengatur (kondisi makhluk-makhluk-Nya) serta memberikan hidayah petunjuk (ke jalan keselamatannya dan kesempurnaannya); (Ayat 3: Surah al-A'laa)


Dan Kami jadikan bumi memancarkan mataair-mataair (di sana sini), lalu bertemulah air (langit dan bumi) itu untuk (melakukan) satu hal yang telah ditetapkan. (Ayat 12: Surah al-Qamar)

Segala hal, tidak peduli apa istilah yang digunakan, adalah termasuk dalam ketentuan Allah swt Apa yang kita istilahkan sebagai perjuangan, ikhtiar, doa, kekeramatan, mukjizat dan lain-lain semuanya adalah ketentuan Allah swt Pagar takdir mengelilingi segala-galanya dan tidak ada sebesar zarah pun yang mampu menembus benteng takdir yang maha teguh. Tidak terjadi perjuangan dan ikhtiar melainkan perjuangan dan ikhtiar tersebut telah ada dalam pagar takdir. Tidak berdoa orang yang berdoa melainkan halnya berdoa itu adalah takdir untuknya yang sesuai dengan ketentuan Allah swt untuknya. Hal yang didoakan juga tidak lari dari perbatasan ketentuan Allah swt Tidak terjadi kekeramatan dan mukjizat melainkan kekeramatan dan mukjizat itu adalah takdir yang tidak menyimpang dari pemerintahan Allah swt Tidak menghirup satu nafas atau berdenyut satu nadi melainkan itu adalah takdir yang mengungkapkan urusan Allah swt pada azali.


Kami datang dari Allah dan kepada Allah kami kembali.

Segala hal datangnya dari Allah atau Dia yang mengadakan ketentuan tanpa intervensi siapa pun. Segala hal kembali kepada-Nya karena Dialah yang mempastikan hukum ketentuan-Nya terlaksana tanpa siapa pun mampu membatasi urusan-Nya.

 Bila sudah dipahami bahwa usaha, ikhtiar, menyerah diri dan segala-galanya adalah takdir yang menurut ketentuan Allah swt, maka seseorang itu tidak lagi merasa bingung apakah mau berikhtiar atau menyerah diri. Ikhtiar dan berserah diri sama-sama berada di dalam pagar takdir. Jika seseorang menyadari makamnya apakah asbab atau Tajrid maka dia hanya perlu bertindak sesuai dengan makamnya. Anggota asbab harus berusaha dengan gigih menurut kondisi hukum sebab-akibat. Apapun hasil yang muncul dari usahanya diterimanya dengan senang hati karena dia tahu hasil itu juga adalah takdir yang diberikan oleh Allah swt Jika hasilnya baik dia akan bersyukur karena dia tahu bahwa kebaikan itu datangnya dari Allah swt Jika tidak ada ketentuan baik untuknya niscaya tidak mungkin dia mendapat kebaikan. Jika hasil yang buruk pula sampai kepadanya dia akan bersabar karena dia tahu apa yang datang kepadanya itu adalah menurut ketentuan Allah tidak tunduk kepada usaha dan ikhtiarnya. Meskipun hasil yang tidak sesuai dengan seleranya datang kepadanya tetapi usaha baik yang dilakukannya tetap diberi pahala dan keberkahan oleh Allah jika dia bersabar dan rela dengan apa juga takdir yang sampai kepadanya itu.

 Anggota Tajrid pula akan reda dengan suasana kehidupannya dan tetap yakin dengan jaminan Allah swt Dia tidak harus mengeluh jika terjadi kekurangan pada rezekinya atau kesusahan menimpanya. Suasana kehidupannya adalah takdir yang sesuai dengan apa yang Allah tentukan. Rezeki yang sampai kepadanya adalah juga ketentuan Allah swt Jika terjadi kekurangan atau kesusahan maka ia juga masih di dalam pagar takdir yang ditentukan oleh Allah swt Begitu juga jika terjadi keberkahan dan kekeramatan pada dirinya dia harus melihat itu sebagai takdir yang menjadi bagiannya.

 Persoalan takdir berkaitan erat dengan persoalan fakta. Fakta membawa pandangan dari yang banyak kepada yang satu. Perhatikan ke sebiji benih kacang. Setelah ditanam benih yang kecil itu akan tumbuh dengan sempurna, mengeluarkan beberapa banyak buah kacang. Buah kacang tersebut dijadikan pula benih untuk menumbuhkan pohon kacang yang lain. Begitulah seterusnya sampai kacang yang dimulai dari satu biji menjadi jutaan juta kacang. Kacang yang sejuta tidak ada bedanya dengan kacang yang pertama. Benih kacang yang pertama itu tidak hanya berkemampuan untuk menjadi sebatang pohon kacang, bahkan ia mampu mengeluarkan semua generasi kacang sampai hari kiamat. Ia hanya bisa mengeluarkan kacang, tidak benda lain.

 Ulasan akal dapat menyatakan bahwa semua kacang memiliki zat yang sama, yaitu zat kacang. Zat kacang pada benih pertama mirip dengan zat kacang pada yang ke satu juta bahkan ia adalah zat yang sama atau yang satu. Zat kacang yang satu itulah 'bergerak' pada semua kacang, mempastikan yang kacang akan menjadi kacang, tidak menjadi benda lain. Meskipun diakui keberadaan zat kacang yang mengontrol pertumbuhan kacang namun, zat kacang itu tidak mungkin ditemukan di mana-mana kacang. Ia tidak berupa dan tidak mendiami setiap kacang, tetapi ia tidak berpisah dengan setiap kacang. Tanpanya tidak mungkin ada eksistensi kacang. Zat kacang ini dinamakan "Hakikat Kacang". Ini adalah suasana ketuhanan yang mengatur dan mengontrol seluruh pertumbuhan kacang dari awal sampai kesudahan, sampai ke hari kiamat. Hakikat Kacang inilah suasana pemerintahan Allah yang Dia telah tentukan untuk semua kejadian kacang. Apa saja yang dikuasai oleh Hakikat Kacang tidak ada pilihan kecuali menjadi kacang.

 Suasana pemerintahan Allah yang mengatur dan mengontrol keberadaan keturunan manusia pula dinamakan "Hakikat Manusia" atau "Hakikat Insan". Allah swt telah menciptakan manusia yang pertama, yaitu Adam as menurut Hakikat Insan yang ada pada sisi-Nya. Pada kejadian Adam as itu telah disimpan bakat dan kemampuan untuk melahirkan semua keturunan manusia sampai hari kiamat. Manusia akan tetap melahirkan manusia karena fakta yang menguasainya adalah Hakikat Manusia.

 Pada Hakikat Manusia itu ada fakta yang menguasai satu individu manusia dan keterkaitan segala kejadian alam yang lain. Seorang manusia yang berhakikatkan "Hakikat Nabi" pasti menjadi nabi. Seorang manusia yang berhakikatkan "Hakikat Wali" pasti akan menjadi wali. Suasana administrasi Allah swt atau fakta itu menguasai roh yang terkait dengannya. Roh bekerja memamerkan segala informasi yang ada dengan kenyataan yang menguasainya. Kerja roh adalah menjalankan urusan Allah swt yaitu menyatakan fakta yang ada pada sisi Allah swt


Dan katakan: "Roh itu termasuk urusan Tuhanku". (Ayat 85: Surah Al-Isra ')

Administrasi Allah menguasai roh dan menyeret roh kepada memamerkan ketentuan-Nya yang berada di azali. Allah telah menentukan hakikat sesuatu sejak azali lagi. Tidak ada perubahan pada ketentuan Allah s.w.t. Segala sesuatu diatur oleh fakta yang pada sisi Allah swt Unta tidak bisa meminta menjadi kambing. Kera tidak bisa meminta menjadi manusia. Manusia tidak bisa meminta menjadi malaikat. Segala ketentuan telah diputuskan oleh Allah swt