Rabu, 12 Januari 2011

002. Ahli Asbab dan Ahli Tajrid

KEINGINAN KAMU UNTUK BERTAJRID PADAHAL ALLAH MASIH MELETAKKAN KAMU DALAM SUASANA ASBAB ADALAH SYAHWAT YANG SAMAR, SEBALIKNYA KEINGINAN KAMU UNTUK BERASBAB PADAHAL ALLAH TELAH MELETAKKAN KAMU DALAM SUASANA TAJRID BERARTI TURUN DARI SEMANGAT DAN TINGKAT YANG TINGGI.


Hikmat 1 menjelaskan tanda orang yang bersandar kepada amal. Tergantung pada amal adalah sifat manusia biasa yang hidup dalam dunia ini. Dunia ini dinamakan alam asbab. Ketika perjalanan hidup keduniaan dipandang melalui mata ilmu atau mata akal akan dapat disaksikan kerapian susunan sistem sebab musabab yang mempengaruhi segala kejadian.

Tiap sesuatu terjadi menurut sebab yang menyebabkan itu terjadi. Hubungan sebab dengan akibat sangat erat. Mata akal melihat dengan jelas efektivitas sebab dalam menentukan akibat. Kerapian sistem sebab musabab ini memungkinkan manusia mengambil manfaat dari anasir dan kejadian alam. Manusia dapat menentukan anasir yang dapat membahayakan kesehatan lalu menjauhkannya dan manusia juga dapat menentukan anasir yang dapat menjadi obat lalu menggunakannya. Manusia dapat membuat ramalan cuaca, pasang surut air laut, angin, ombak, ledakan gunung berapi dan lain-lain karena sistem yang mengontrol perjalanan anasir alam berada dalam suasana yang sangat rapi dan sempurna, membentuk hubungan sebab dan akibat yang padu.

Allah swt mengadakan sistem sebab musabab yang rapi adalah untuk kenyamanan manusia mengatur kehidupan mereka di dunia ini. Kekuatan akal dan indera manusia mampu mengatur kehidupan yang dikaitkan dengan perjalanan sebab musabab. Hasil dari pengamatan dan penelitian akal itulah lahir berbagai jenis ilmu tentang alam dan kehidupan, seperti ilmu sains, astronomi, kedokteran, teknologi informasi dan sebagainya. Semua jenis ilmu itu dibentuk berdasarkan perjalanan hukum sebab-akibat.
 Kerapian sistem sebab musabab menyebabkan manusia terikat kuat dengan hukum sebab-akibat. Manusia tergantung pada amal (sebab) dalam mendapatkan hasil (akibat). Manusia yang melihat kepada efektivitas sebab dalam menentukan akibat serta bersandar dengannya dinamakan anggota asbab.

Sistem sebab musabab atau perjalanan hukum sebab-akibat sering membuat manusia lupa kepada kekuasaan Allah swt Mereka melakukan sesuatu dengan penuh keyakinan bahwa akibat akan lahir dari sebab, seolah-olah Allah tidak ikut campur dalam urusan mereka. Allah tidak suka hamba-Nya 'mempertuhankan' sesuatu kekuatan sehingga mereka lupa kepada kekuasaan-Nya. Allah tidak suka jika hamba-Nya sampai ke tingkat mempersekutukan diri-Nya dan kekuasaan-Nya dengan anasir alam dan hukum sebab-akibat ciptaan-Nya. Dia yang menempatkan efektivitas kepada anasir alam berkuasa membuat anasir alam itu lemah kembali. Dia yang menempatkan kerapian pada hukum sebab-akibat berkuasa merombak hukum tersebut. Dia mengutus rasul-rasul dan nabi-nabi membawa mukjizat yang merombak hukum sebab-akibat untuk mengembalikan pandangan manusia kepada-Nya, agar waham sebab musabab tidak menghijab ketuhanan-Nya. Kelahiran Nabi Isa as, terbelahnya laut dipukul oleh tongkat Nabi Musa as, kehilangan daya membakar yang ada pada api tatkala Nabi Ibrahim as masuk ke dalamnya, keluarnya air yang jernih dari jari-jari Nabi Muhammad saw dan banyak lagi yang didatangkan oleh Allah swt, merombak efektivitas hukum sebab-akibat untuk menyadarkan manusia tentang kenyataan bahwa kekuasaan Allah swt yang memimpin perjalanan alam maya dan hukum sebab-akibat. Alam dan hukum yang ada padanya seharusnya membuat manusia mengenal Tuhan, bukan menutup pandangan kepada Tuhan. Sebagian dari manusia diselamatkan Allah SWT dari waham sebab musabab.

Sebagai manusia yang hidup dalam dunia mereka masih bergerak dalam arus sebab musabab tetapi mereka tidak menempatkan efektivitas hukum kepada sebab. Mereka selalu melihat kekuasaan Allah yang mengatur atau mencabut efektivitas pada sesuatu hukum sebab-akibat. Jika sesuatu sebab berhasil mengeluarkan akibat menurut yang biasa terjadi, mereka melihatnya sebagai kekuasaan Allah yang mengatur kekuatan untuk alasan tersebut dan Allah juga yang mengeluarkan akibatnya. Allah s.w.t berfirman:
Segala yang ada di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah; dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Dialah yang menguasai dan memiliki langit dan bumi; Ia menghidupkan dan mematikan; dan Ia Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Ayat 1 & 2: Surah al-Hadiid)
Maka Kami (Allah) berfirman: "Pukullah si mati dengan sebagian anggota sapi yang kamu sembelih itu". (Mereka pun memukulnya dan ia kembali hidup). Demikianlah Allah menghidupkan orang-orang yang telah mati, dan memperlihatkan kepada kamu tanda-tanda kekuasaan-Nya, supaya kamu memahaminya. (Ayat 73: Surah al-Baqarah)

Orang yang melihat kepada kekuasaan Allah memimpin hukum sebab-akibat tidak menempatkan efektivitas kepada hukum tersebut. Cadangan devisanya kepada Allah, tidak untuk amal yang menjadi sebab. Orang yang seperti ini disebut anggota Tajrid.

Anggota Tajrid, seperti juga anggota asbab, melakukan sesuatu menurut aturan sebab-akibat. Anggota Tajrid juga makan dan minum Anggota Tajrid pemanasan dan memasak dengan menggunakan api juga. Anggota Tajrid juga melakukan sesuatu pekerjaan yang berhubungan dengan rezekinya. Tidak ada perbedaan di antara amal anggota Tajrid dengan amal anggota asbab. Perbedaannya terletak di dalam diri yaitu hati. Anggota asbab melihat kepada kekuatan hukum alam. Anggota Tajrid melihat kepada kekuasaan Allah pada hukum alam itu. Meskipun anggota asbab mengakui kekuasaan Allah SWT tetapi penghayatan dan kekuatannya pada hati tidak sekuat anggota Tajrid.

Dalam melakukan kebaikan anggota asbab perlu melakukan mujahadah. Mereka harus memaksa diri mereka berbuat baik dan perlu menjaga kebaikan itu agar tidak menjadi rusak. Anggota asbab perlu memperingatkan dirinya agar berbuat ikhlas dan harus melindungi keikhlasannya agar tidak dirusak oleh riak (berbuat baik untuk diperlihatkan kepada orang lain agar dia dikatakan orang baik), takabur (sombong dan membesar diri, merasa diri sendiri lebih baik, lebih tinggi, lebih kuat dan lebih cerdik dari orang lain) dan sama'ah (membawa perhatian orang lain kepada kebaikan yang telah dibuatnya dengan cara bercerita tentang, agar orang mengakui bahwa dia adalah orang baik). Jadi, anggota asbab perlu memelihara kebaikan sebelum melakukannya dan juga setelah melakukannya. Suasana hati anggota Tajrid berbeda dari apa yang dialami oleh anggota asbab. Jika anggota asbab memperingatkan dirinya agar ikhlas, anggota Tajrid tidak melihat kepada ikhlas karena mereka tidak bersandar kepada amal kebaikan yang mereka lakukan. Apapun kebaikan yang keluar dari mereka diserahkan kepada Allah yang menganugerahkan kebaikan tersebut. Anggota Tajrid tidak perlu menentukan perbuatannya ikhlas atau tidak ikhlas. Melihat keihklasan pada perbuatan sama dengan melihat diri sendiri yang ikhlas. Ketika seseorang merasakan dirinya sudah ikhlas, padanya masih tersembunyi keegoan diri yang menyebabkan riak, ujub (merasa diri sendiri sudah baik) dan sama'ah. Ketika tangan kanan berbuat ikhlas dalam kondisi tangan kiri tidak menyadari perbuatan itu barulah tangan kanan itu benar-benar ikhlas. Orang yang ikhlas berbuat kebaikan dengan melupakan kebaikan itu. Ikhlas sama seperti harta benda. Jika seorang miskin diberi harta oleh jutawan, orang miskin itu malu mendabik dada ke jutawan itu dengan mengatakan yang dia sudah kaya. Orang Tajrid yang diberi ikhlas oleh Allah swt mengembalikan kebaikan mereka kepada Allah swt Jika harta orang miskin itu hak si jutawan tadi, ikhlas orang Tajrid adalah hak Allah swt Jadi, orang asbab bergembira karena melakukan perbuatan dengan ikhlas, orang Tajrid pula melihat Allah yang mengatur sekalian urusan. Anggota asbab dibawa ke syukur, anggota Tajrid berada dalam penyerahan.

Kebaikan yang dilakukan oleh anggota asbab merupakan teguran agar mereka ingat kepada Allah yang memimpin mereka kepada kebaikan. Kebaikan yang dilakukan oleh anggota Tajrid merupakan karunia Allah swt kepada kelompok manusia yang tidak memandang diri mereka dan kepentingannya. Anggota asbab melihat kepada efektivitas hukum sebab-akibat. Anggota Tajrid pula melihat kepada efektivitas kekuasaan dan ketentuan Allah swt Dari kalangan anggota Tajrid, Allah memilih sebagian dan menempatkan kekuatan hukum pada mereka. Kelompok ini bukan sekadar tidak melihat kepada efektivitas hukum sebab-akibat, bahkan mereka berkekuatan menguasai hukum sebab-akibat itu. Mereka adalah nabi-nabi dan wali-wali pilihan. Nabi-nabi diberikan mukjizat dan wali-wali dianugerahi kekeramatan. Mukjizat dan kekeramatan merombak efektivitas hukum sebab-akibat.

Di dalam kelompok wali-wali pilihan yang diberkahi kekuatan mengontrol hukum sebab-akibat itu terdapatlah orang-orang seperti Syeikh Abdul Qadir al-Jailani, Abu Hasan as-Sazili, Rabiatul Adawiah, Ibrahim Adham dan lain-lain. Cerita tentang kekeramatan mereka sering diperdengarkan. Orang yang cenderung kepada tarekat tasawuf gemar membuat kehidupan aulia Allah tersebut sebagai contoh, dan yang mudah memikat perhatian adalah bagian kekeramatan. Kekeramatan biasanya dikaitkan dengan perilaku kehidupan yang zuhud dan bertawakal sepenuhnya kepada Allah swt Timbul anggapan bahwa jika ingin memperoleh kekeramatan seperti mereka harus hidup sebagaimana mereka. Orang yang berada pada tahap awal bertarekat cenderung untuk memilih jalan bertajrid yaitu membuang segala ikhtiar dan bertawakal sepenuhnya kepada Allah swt Sikap melulu bertajrid membuat seseorang meninggalkan pekerjaan, istri, anak-anak, masyarakat dan dunia seluruhnya. Semua harta disedekahkan karena dia melihat Abu Bakar as-Siddik telah melakukannya. Ibrahim bin Adham telah meninggalkan tahta kerajaan, istri, anak, rakyat dan negerinya lalu tinggal di dalam gua. Biasanya orang yang bertindak demikian tidak dapat bertahan lama. Kesudahannya dia mungkin meninggalkan kelompok tarekatnya dan kembali ke kehidupan duniawi. Ada juga yang kembali kepada kehidupan yang lebih buruk dari keadaannya sebelum bertarekat dahulu karena dia ingin menebus kembali apa yang telah ditinggalkannya dahulu untuk bertarekat. Kondisi yang demikian terjadi akibat bertajrid sembarangan. Orang yang baru masuk ke dalam bidang pelatihan spiritual sudah ingin beramal seperti aulia Allah yang sudah puluhan tahun melatihkan diri. Aksi melemparkan semua yang dimilikinya secara tergesa-gesa membuatnya berhadapan dengan tantangan dan dugaan yang bisa menggoncangkan imannya dan mungkin juga membuatnya berputus-asa. Apa yang harus dilakukan bukanlah meniru kehidupan aulia Allah swt yang telah mencapai makam yang tinggi sembarangan. Seseorang haruslah melihat ke dirinya dan mengidentifikasi posisinya, kemampuanya dan daya-tahannya. Ketika masih di dalam makam asbab seseorang haruslah bertindak sesuai dengan hukum sebab-akibat. Dia harus bekerja untuk mendapatkan rezekinya dan harus pula berusaha menjauhkan dirinya dari bahaya atau kerusakan.

Anggota asbab perlu melakukannya karena dia masih terikat dengan sifat-sifat kemanusiaan. Dia masih melihat bahwa tindakan makhluk mempengaruhi dirinya. Oleh yang demikian adalah wajar jika dia mengadakan juga tindakan yang menurut pandangannya akan mendatangkan kesejahteraan bagi dirinya dan orang lain. Tanda Allah menempatkan seseorang pada posisi sebagai anggota asbab adalah ketika urusannya dan tindakannya yang menurut kesesuaian hukum sebab-akibat tidak menyebabkannya mengabaikan kewajiban terhadap tuntutan agama. Dia tetap merasa rengan untuk berbakti kepada Allah swt, tidak gelojoh dengan nikmat duniawi dan tidak merasa iri terhadap orang lain. Ketika anggota asbab berjalan menurut hukum asbab maka jiwanya akan maju dan berkembang dengan baik tanpa mengalami kegoncangan yang besar yang dapat menyebabkan dia berputus asa dari rahmat Allah swt Rohaninya akan menjadi kuat sedikit demi sedikit dan mendorongnya ke dalam makam Tajrid secara aman. Akhirnya dia mampu untuk bertajrid sepenuhnya.

Ada pula orang yang dipaksa oleh takdir sehingga bertajrid. Orang ini awalnya adalah anggota asbab yang berjalan menurut hukum sebab-akibat sebagaimana orang. Kemungkinannya kehidupan seperti itu tidak menambah kematangan rohaninya. Perubahan jalan perlu baginya sehingga dia bisa maju dalam bidang spiritual. Jadi takdir bertindak memaksanya untuk terjun ke dalam lautan Tajrid. Dia akan mengalami kondisi di mana hukum sebab-akibat tidak lagi membantunya untuk menyelesaikan masalahnya. Jika dia seorang raja, takdir mencabut kerajaannya. Jika dia seorang hartawan, takdir menghapus hartanya. Jika dia seorang yang cantik, takdir menghilangkan kecantikannya itu. Takdir memisahkannya dari apa yang dimiliki dan dikasihinya. Pada tahap awal menerima kedatangan takdir yang demikian, sebagai anggota asbab, dia berikhtiar menurut hukum sebab-akibat untuk mempertahankan apa yang dimiliki dan dikasihinya. Jika dia tidak mampu untuk menolong dirinya dia akan meminta pertolongan orang lain. Setelah puas dia berikhtiar termasuk bantuan orang lain namun, tangan takdir tetap juga merombak sistem sebab-akibat yang terjadi pada dirinya. Bila dia sendiri dengan dibantu oleh orang lain tidak mampu mengatasi arus takdir maka dia tidak ada pilihan kecuali berserah kepada takdir. Dalam kondisi begitu dia akan lari kepada Allah dan memohon agar Allah menolongnya. Pada tahap ini seseorang akan kuat beribadah dan berfokus sepenuh hatinya kepada Tuhan. Dia benar-benar berharap Tuhan akan menolongnya mengembalikan apa yang pernah dimilikinya dan dikasihinya. Tapi, pertolongan tidak juga sampai kepadanya sampai dia benar-benar terpisah dari apa yang dimiliki dan dikasihinya itu. Luputlah harapannya untuk mendapatkannya kembali. Redalah dia dengan perpisahan itu. Dia tidak lagi menarik bagi Tuhan sebaliknya dia menyerahkan segala urusannya kepada Tuhan. Dia menyerah bulat-bulat kepada Allah, tidak ada lagi ikhtiar, pilihan dan kehendak diri sendiri. Jadi dia seorang hamba Allah swt yang bertajrid. Bila seseorang hamba benar-benar bertajrid maka Allah swt sendiri akan mengelola kehidupannya. Allah swt menggambarkan suasana Tajrid dengan firman-Nya:
Dan (ingatlah) berapa banyak binatang yang tidak membawa rezekinya bersama, Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepada kamu; dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Ayat 60: Surah al-'Ankabut)

Makhluk Allah seperti burung, ikan, kuman dan sebagainya tidak memiliki tempat penyimpanan makanan. Mereka adalah anggota Tajrid yang dijamin rezeki mereka oleh Allah swt Jaminan Allah itu meliputi juga ras manusia. Tanda Allah menempatkan seseorang hamba-Nya di dalam makam Tajrid adalah Allah memudahkan baginya rezeki yang datang dari arah yang tidak diduganya. Jiwanya tetap tenteram sekalipun terjadi kekurangan pada rezeki atau ketika menerima bala ujian.

Jika anggota Tajrid sengaja memindahkan dirinya ke makam asbab maka ini berarti dia melepaskan jaminan Allah swt lalu bersandar kepada makhluk. Ini menunjukkan akan kejahilannya tentang rahmat dan kekuasaan Allah swt Tindakan yang jahil itu dapat menyebabkan berkurang atau hilang terus keberkahan yang Allah karuniakan kepadanya. Misalnya, seorang anggota Tajrid yang tidak memiliki pekerjaan kecuali membimbing orang ke jalan Allah, meskipun tidak memiliki pekerjaan namun, rezeki datang kepadanya dari berbagai arah dan tidak pernah putus tanpa dia meminta-minta atau mengharap-harap. Pengajaran yang disampaikan kepada murid-muridnya sangat efektif sekali. Keberkatannya sangat signifikan seperti makbul doa dan ucapannya biasanya menjadi kenyataan. Andainya dia meninggalkan suasana bertajrid lalu berasbab karena tidak puas dengan rezeki yang diterimanya maka keberkatannya akan terpengaruh. Pengajarannya, doanya dan ucapannya tidak seberkesan dahulu lagi. Ilham yang datang kepadanya tersendat dan kefasihan lidahnya tidak selancar biasa.

Seseorang hamba haruslah menerima dan reda dengan posisi yang Allah karuniakan kepadanya. Berserahlah kepada Allah swt dengan yakin bahwa Allah Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana. Allah tahu apa yang patut bagi setiap makhluk-Nya. Allah swt sangat bijak mengatur urusan hamba-hamba-Nya.

Keinginan untuk pertukaran makam merupakan tipu daya yang sangat halus. Di dalamnya tersembunyi dorongan nafsu yang sulit disadari. Nafsu di sini mencakup keinginan, cita-cita dan angan-angan. Orang yang baru terbuka pintu hatinya setelah lama hidup di dalam kelalaian, akan mudah tergerak untuk meninggalkan suasana asbab dan masuk ke dalam suasana Tajrid. Orang yang telah lama berada dalam suasana Tajrid, ketika kesadaran dirinya kembali sepenuhnya, ikut kembali kepadanya adalah keinginan, cita-cita dan angan-angan. Nafsu mencoba untuk bangkit kembali menguasai dirinya. Orang asbab perlulah menyadari bahwa keinginannya untuk pindah ke makam Tajrid itu mungkin secara halus digerakkan oleh ego diri yang tertanam jauh dalam jiwanya. Orang Tajrid pula harus sadar keinginannya untuk kembali ke asbab itu mungkin didorong oleh nafsu rendah yang masih belum berpisah dari hatinya. Ulama tasawuf mengatakan seseorang mungkin dapat mencapai semua makam nafsu, tapi nafsu tingkat pertama tidak kunjung padam. Oleh yang demikian perjuangan atau mujahadah mengawasi nafsu selalu berjalan

Selasa, 11 Januari 2011

001. Perbuatan Zahir dan Suasana Hati


SEBAHAGIAN DARIPADA TANDA BERSANDAR KEPADA AMAL (PERBUATAN ZAHIR) ADALAH BERKURANGAN HARAPANNYA (SUASANA HATI) TATKALA BERLAKU PADANYA KESALAHAN.

  • Imam Ibnu Athaillah memulai Kalam Hikmat beliau dengan mengajak kita merenung kepada hakikat amal. Amal boleh dibagi kepada dua jenis yaitu perbuatan zahir dan perbuatan hati atau suasana hati berhubung dengan perbuatan zahir tersebut. Sebagian orang boleh melakukan perbuatan zahir yang serupa tetapi suasana hati akan perbuatan zahir itu tidak sama.

  • Kesan amalan zahir kepada hati berbeda antara seorang dengan yang lainnya. Jika amalan zahir itu mempengaruhi suasana hati, maka hati itu dikatakan bersandar kepada amalan zahir.
  • Jika hati dipengaruhi juga oleh amalan hati, maka hati itu dikatakan bersandar juga kepada amal, sekalipun hanya amalan batin.
  • Hati yang bebas daripada bersandar kepada amal amal zahir atau amal batin adalah hati yang menghadap kepada Allah s.w.t dan meletakkan ketergantungan kepada-Nya tanpa membawa amal, zahir atau batin sedikitpun, serta menyerah sepenuhnya kepada Allah s.w.t tanpa takwil atau tuntutan apapun.
  • Hati yang demikian tidak menjadikan amalnya, zahir dan batin, walau berapa banyak sekalipun, sebagai alat untuk tawar menawar dengan Tuhan bagi mendapatkan sesuatu. Amalan tidak menjadi perantaraan dengan Tuhannya. Orang yang seperti ini tidak membataskan kekuasaan dan kemurahan Tuhan untuk tunduk kepada perbuatan manusia.
  • Allah s.w.t Yang Maha Berdiri Dengan Sendiri berbuat sesuatu menurut kehendak-Nya tanpa dipengaruhi oleh siapapun dan sesuatupun.
  • Apa saja yang mengenai Allah s.w.t adalah mutlak, tiada had, sempadan dan pembatasan. Oleh kerana itu orang arif tidak menjadikan amalan sebagai sempadan yang mengongkong ketuhanan Allah s.w.t atau ‘memaksa’ Allah s.w.t berbuat sesuatu menurut perbuatan makhluk.
  • Perbuatan Allah s.w.t berada di hadapan dan perbuatan makhluk ada di belakang. Tidak pernah terjadi Allah s.w.t mengikuti perkataan dan perbuatan seseorang atau sesuatu.Sebelum menjadi seorang yang arif, hati manusia memang berhubung rapat dengan amalan dirinya, baik yang zahir maupun yang batin.
  • Manusia yang kuat bersandar kepada amalan zahir adalah mereka yang mencari faedah keduniaan dan mereka yang kuat bersandar kepada amalan batin adalah yang mencari faedah akhirat.
  • Kedua-dua jenis manusia tersebut percaya bahwa amalannya menentukan apa yang mereka akan peroleh baik di dunia maupun di akhirat.
  • Kepercayaan yang demikian kadang-kadang membuat manusia hilang atau kurang ketergantungannya dengan Tuhan. Ketergantungan mereka hanyalah kepada amalan semata-mata ataupun jika mereka bergantung kepada Allah s.w.t, ketergantungan itu bercampur dengan keraguan.
  • Seseorang manusia boleh memeriksa diri sendiri apakah kuat atau lemah ketergantunganya kepada Allah s.w.t.
  • Kalam Hikmat 1 yang dikeluarkan oleh Ibnu Athaillah memberi petunjuk mengenai hal ini. Lihatlah kepada hati apabila kita terperosok ke dalam perbuatan maksiat atau dosa. Jika kesalahan yang demikian membuat kita berputus asa daripada rahmat dan pertolongan Allah s.w.t itu tandanya pergantungan kita kepada-Nya sangat lemah.
  • Firman-Nya:
  • Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir". (QS 12 Surah Yusuf Ayat 87 :)
  • Ayat di atas menceritakan bahwa orang yang beriman kepada Allah s.w.t meletakkan ketergantungan kepada-Nya walau dalam keadaan bagaimana pun. Kerergantungan kepada Allah s.w.t membuat hati tidak berputus asa dalam menghadapi kenyataan hidup.
  • Kadang-kadang apa yang diinginkan, direncanakan dan diusahakan tidak sama hasilnya dengan yang diharapkan. Kegagalan mendapatkan sesuatu yang diinginkan bukan bermakna tidak menerima pemberian Allah s.w.t. Selama seseorang itu beriman dan bergantung kepada-Nya selama itulah Dia melimpahkan rahmat-Nya.
  • Kegagalan memperoleh apa yang diinginkan bukan bermakna tidak mendapat rahmat Allah s.w.t. Apa lagi yang Allah s.w.t lakukan kepada orang yang beriman pasti disitu terdapat rahmat-Nya, walaupun dalam hal tidak mengabulkan keinginanya. Keyakinan terhadap yang demikian menjadikan orang yang beriman tabah menghadapi ujian hidup, dan tidak sekali-kali untuk berputus asa. Mereka yakin bahwa apabila mereka sandarkan segala perkara kepada Allah s.w.t, maka apa juga amal kebaikan yang mereka lakukan tidak akan menjadi sia-sia.

  • 001-BAGIAN DARI TANDA BERSANDAR KEPADA AMAL (PERBUATAN ZAHIR) ADALAH BERKURANGAN harapannya (SUASANA HATI) TATKALA BERLAKU PADANYA KESALAHAN.


    Imam Ibnu Athaillah memulai Kalam Hikmat beliau dengan mengajak kita merenungkan fakta amal. Amal dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu perbuatan zahir dan perbuatan hati atau suasana hati sehubungan dengan perbuatan zahir itu. Beberapa orang dapat melakukan perbuatan zahir yang serupa tetapi suasana hati sehubungan dengan perbuatan zahir itu tidak mirip. Dampak praktek lahir ke hati berbeda antara seorang dengan seorang yang lain. Jika praktek zahir itu mempengaruhi suasana hati, maka hati itu dikatakan bersandar kepada praktek lahir. Jika hati dipengaruhi juga oleh praktek hati, maka hati itu dikatakan bersandar juga kepada amal, sekalipun itu amalan batin. Hati yang bebas dari bersandar kepada amal baik amal zahir atau amal batin adalah hati yang menghadap kepada Allah swt dan menempatkan ketergantungan kepada-Nya tanpa membawa apapun amal, lahir atau batin, serta menyerah sepenuhnya kepada Allah tanpa takwil atau tuntutan. Hati yang demikian tidak menjadikan amalnya, lahir dan batin, walau berapa banyak sekalipun, sebagai alat untuk tawar menawar dengan Tuhan untuk mendapatkan sesuatu. Praktek tidak menjadi perantara di antaranya dengan Tuhannya. Orang yang seperti ini tidak membatasi kekuasaan dan kemurahan Tuhan untuk tunduk kepada perbuatan manusia. Allah Yang Maha Berdiri Dengan Sendiri berbuat sesuatu menurut kehendak-Nya tanpa dipengaruhi oleh siapapun dan sesuatu. Apa saja yang tentang Allah adalah mutlak, tidak ada batas, perbatasan dan perbatasan. Oleh karena itu orang arif tidak membuat praktek sebagai perbatasan yang mengungkung ketuhanan Allah atau 'memaksa' Allah berbuat sesuatu menurut perbuatan makhluk. Perbuatan Allah swt berada di depan dan perbuatan makhluk di belakang. Tidak pernah terjadi Allah swt mengikuti perkataan dan perbuatan seseorang atau sesuatu.Sebelum menjadi seorang yang arif, hati manusia memang berhubungan erat dengan praktek dirinya, baik yang lahir maupun yang batin. Manusia yang kuat bersandar kepada praktek zahir adalah mereka yang menemukan manfaat keduniaan dan mereka yang kuat bersandar kepada praktek batin adalah yang menemukan manfaat akhirat. Kedua jenis manusia tersebut berkeyakinan bahwa amalannya menentukan apa yang mereka akan peroleh baik di dunia dan juga di akhirat. Kepercayaan yang demikian kadang-kadang membuat manusia hilang atau kurang ketergantungan dengan Tuhan. Ketergantungan mereka hanyalah kepada praktek semata-mata atau jika mereka bergantung kepada Allah swt, ketergantungan itu bercampur dengan keraguan. Seseorang manusia dapat memeriksa diri sendiri apakah kuat atau lemah cadangan devisanya kepada Allah swt Kalam Hikmat 1 yang dikeluarkan oleh Ibnu Athaillah memberi petunjuk tentang. Lihatlah ke hati ketika kita terperosok ke dalam perbuatan maksiat atau dosa. Jika kesalahan yang demikian membuat kita berputus asa dari rahmat dan pertolongan Allah swt itu tandanya ketergantungan kita kepada-Nya sangat lemah. Firman-Nya:

    "Wahai anak-anakku! Pergilah dan intiplah kabar berita tentang Yusuf dan saudaranya (Bunyamin), dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tidak berputus asa dari rahmat dan pertolongan Allah melainkan kaum yang kafir ". (Ayat 87: Surah Yusuf)

    Ayat di atas menceritakan bahwa orang yang beriman kepada Allah swt menempatkan ketergantungan kepada-Nya walau dalam kondisi bagaimana pun. Ketergantungan kepada Allah swt membuat hati tidak menyerah dalam menghadapi dugaan hidup. Kadang-kadang apa yang diinginkan, direncanakan dan diusahakan tidak mendatangkan hasil yang diharapkan. Kegagalan mendapatkan sesuatu yang diinginkan bukan berarti tidak menerima pemberian Allah swt Selagi seseorang itu beriman dan bergantung kepada-Nya selagi itulah Dia melimpahkan rahmat-Nya. Kegagalan mendapatkan apa yang dihajatkan bukan berarti tidak mendapat rahmat Allah swt Apapun yang Allah lakukan kepada orang yang beriman pasti ada rahmat-Nya, bahkan dalam soal tidak menyampaikan hajatnya. Keyakinan terhadap yang demikian membuat orang yang beriman tabah menghadapi ujian hidup, tidak sekali-kali berputus asa. Mereka yakin bahwa ketika mereka sandarkan segala hal kepada Allah, maka apa juga amal kebaikan yang mereka lakukan tidak akan menjadi sia-sia.

    Orang yang tidak beriman kepada Allah swt berada dalam situasi yang berbeda. Ketergantungan mereka hanya tertuju kepada praktek mereka, yang terkandung di dalamnya ilmu dan usaha. Ketika mereka mengadakan suatu usaha berdasarkan kemampuan dan pengetahuan yang mereka ada, mereka mengharapkan akan mendapatkan hasil yang setimpal. Jika ilmu dan usaha (termasuk pertolongan orang lain) gagal mendatangkan hasil, mereka tidak memiliki tempat bersandar lagi. Jadi mereka orang yang berputus asa. Mereka tidak dapat melihat hikmat kebijaksanaan Allah swt mengatur perjalanan takdir dan mereka tidak mendapat rahmat dari-Nya.

    Jika orang kafir tidak bersandar kepada Allah swt dan mudah menyerah, di kalangan sebagian orang Islam juga ada yang demikian, tergantung sejauh mana sifatnya menyerupai sifat orang kafir. Orang yang seperti ini melakukan praktek karena kepentingan diri sendiri, bukan karena Allah swt Orang ini mungkin mengharapkan dengan amalannya itu dia dapat meraih kemakmuran hidup di dunia.Dia mengharapkan semoga amal kebajikan yang dilakukannya dapat mengeluarkan hasil dalam bentuk bertambah rezekinya, posisinya atau pangkatnya, orang lain semakin menghormatinya dan dia juga dihindarkan dari bala penyakit, kemiskinan dan sebagainya. Bertambah banyak amal kebaikan yang dilakukannya bertambah besarlah harapan dan keyakinannya tentang kesejahteraan hidupnya.

    Sebagian kaum muslimin yang lain mengaitkan amal kebaikan dengan kemuliaan hidup di akhirat. Mereka memandang amal salih sebagai tiket untuk memasuki surga, juga untuk menjauhkan azab api neraka. Spiritual orang yang bersandar kepada amal sangat lemah, terutama mereka yang mencari keuntungan duniawi dengan amal mereka. Mereka tidak tahan menempuh ujian. Mereka mengharapkan perjalanan hidup mereka selalu nyaman dan segala-segalanya berjalan menurut apa yang direncanakan. Apabila sesuatu itu terjadi di luar harapan, mereka cepat naik panik dan gelisah. Bala bencana membuat mereka merasakan yang merekalah manusia yang paling malang di atas muka bumi ini. Bila berhasil memperoleh sesuatu kebaikan, mereka merasakan kesuksesan itu karena kepandaian dan kemampuan mereka sendiri. Mereka mudah menjadi ego serta suka membual.

    Ketika rohani seseorang bertambah teguh dia melihat amal itu sebagai jalan untuknya mendekatkan diri dengan Tuhan. Hatinya tidak lagi cenderung kepada manfaat duniawi dan ukhrawi tetapi dia berharap untuk mendapatkan karunia Allah swt seperti terbuka hijab-hijab yang menutupi hatinya. Orang ini merasakan amalnya yang membawanya kepada Tuhan. Dia sering mengaitkan pencapaiannya dalam bidang kerohanian dengan amal yang banyak dilakukannya seperti berzikir, shalat sunat, puasa dan lain-lain. Bila dia tertinggal melakukan sesuatu amal yang biasa dilakukannya atau bila dia tergelincir melakukan kesalahan maka dia berasa dijauhkan oleh Tuhan. Inilah orang yang pada tahap awal mendekatkan dirinya dengan Tuhan melalui praktek tarekat tasawuf.

    Jadi, ada orang yang bersandar kepada amal semata-mata dan ada pula golongan yang bersandar kepada Tuhan melalui amal. Kedua golongan tersebut berpegang kepada efektivitas amal dalam mendapatkan sesuatu. Golongan pertama kuat berpegang kepada amal lahir, yaitu perbuatan zahir yang dinamakan usaha atau ikhtiar. Jika mereka salah memilih ikhtiar, hilanglah harapan mereka untuk mendapatkan apa yang mereka hajatkan. Anggota tarekat yang masih diperingkat awal pula kuat bersandar kepada praktek batin seperti salat dan berzikir. Jika mereka tertinggal melakukan sesuatu praktek yang biasa mereka lakukan, akan berkurang harapan mereka untuk mendapatkan anugerah dari Allah swt Jika mereka tergelincir melakukan dosa, akan putuslah harapan mereka untuk mendapatkan anugerah Allah swt

    Dalam hal bersandar kepada amal ini, termasuk juga bersandar kepada ilmu, baik ilmu zahir atau ilmu batin. Ilmu zahir adalah ilmu administrasi dan manajemen sesuatu hal menurut kekuatan akal. Ilmu batin pula adalah ilmu yang menggunakan kekuatan internal untuk menyampaikan hajat. Ini termasuk penggunaan ayat-ayat al-Quran dan jampi. Kebanyakan orang meletakkan efektivitas kepada ayat, jampi dan usaha, hinggakan mereka lupa kepada Allah swt yang menempatkan efektivitas kepada tiap sesuatu itu.

    Selanjutnya, jika Tuhan izinkan, spiritualitas seseorang meningkat ke makam yang lebih tinggi. Sebenarnya di dalam hatinya maksud kalimat:


    Tidak ada daya dan upaya kecuali beserta Allah.

    "Padahal Allah yang menciptakan kamu dan benda-benda yang kamu perbuat itu!" (Ayat 96: Surah as Saaffaat)

    Orang yang di dalam makam ini tidak lagi melihat ke amalnya, meskipun banyak amal yang dilakukannya namun, hatinya tetap melihat bahwa semua amalan tersebut adalah karunia Allah kepadanya. Jika tidak karena taufik dan hidayat dari Allah swt tentu tidak ada amal kebaikan yang dapat dilakukannya. Allah s.w.t berfirman:

    "Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mencoba apakah aku bersyukur atau aku tidak akan nikmat pemberian-Nya. Dan (sebenarnya) siapa yang bersyukur maka bunga syukurnya itu hanyalah terserah dirinya sendiri, dan siapa yang tidak bersyukur (maka tidaklah menjadi masalah kepada Allah), karena sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Pemurah ". (Ayat 40: Surah an-Naml)


    Dan tiadalah kamu mampu (melakukan sesuatu) melainkan dengan cara yang diinginkan Allah; sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana (mengatur setiap hal yang diinginkan-Nya). Ia memasukkan siapa yang dikehendaki-Nya (menurut aturan yang ditetapkan) ke dalam rahmat-Nya (dengan ditempatkan-Nya di dalam surga); dan orang-orang yang zalim, Ia menyediakan untuk mereka azab yang pedih. (Ayat 30 & 31: Surah al-Insaan)

    Semuanya adalah karunia Allah SWT dan menjadi milik-Nya. Orang ini melihat kepada takdir yang Allah tentukan, tidak terlihat olehnya efektivitas perbuatan makhluk termasuk perbuatan dirinya sendiri. Makam ini dinamakan makam ariffin yaitu orang yang mengenal Allah swt Golongan ini tidak lagi bersandar kepada amal namun, merekalah yang paling kuat mengerjakan amal ibadat.

    Orang yang masuk ke dalam lautan takdir, reda dengan segala yang ditentukan Allah swt, akan selalu tenang, tidak berdukacita bila kehilangan atau tidak adanya sesuatu. Mereka tidak melihat makhluk sebagai penyebab atau produsen efek.

    Di awal perjalanan menuju Allah swt, seseorang itu kuat beramal menurut tuntutan syariat. Dia melihat praktek itu sebagai kendaraan yang dapat membawanya hampir dengan Allah swt Semakin kuat dia beramal semakin besarlah harapannya untuk sukses dalam perjalanannya. Ketika dia mencapai satu tingkat, pandangan mata hatinya terhadap amal mulai berubah. Dia tidak lagi melihat praktek sebagai alat atau penyebab. Pandangannya beralih kepada karunia Allah s.w.t. Dia melihat semua amalannya adalah karunia Allah SWT kepadanya dan kehampirannya dengan Allah swt juga karunia-Nya. Selanjutnya terbuka hijab yang menutupi dirinya dan dia mengenali dirinya dan mengenali Tuhannya. Dia melihat dirinya sangat lemah, hina, jahil, serba kekurangan dan faqir. Tuhan adalah Maha Kaya, Berkuasa, Mulia, Bijaksana dan Sempurna dalam segala hal. Bila dia sudah mengenali dirinya dan Tuhannya, pandangan mata hatinya tertuju kepada qudrah dan iradah Allah yang memimpin segala sesuatu dalam alam maya ini. Jadi dia seorang arif yang selalu memandang kepada Allah, berserah diri kepada-Nya, tergantung dan berhajat kepada-Nya. Dia hanyalah hamba Allah s.w.t yang faqir.